Setiap anak di daerah pastilah mempunyai mimpi, cita-cita , dan harapan yang ingin diraih kelak. Sayangya, sering kali mereka tidak tahu cara untuk merealisasikan mimpi-mimpi mereka. Karena apa? Karena keterbatasan, kekurangan dan ketidaktahuan, yang pada akhinrya akan membuat mereka takut untuk bermimpi . Olah karenanya dengan menjadi pengajar muda melalu GIM ini, saya ingin bisa membantu mereka untuk memiliki mimpi, cita-cita dan harapan. Bisa saya bayangkan betapa merupakan kebahagian yang tak ternilai ketika anak-anak didik saya di daerah nantinya bisa merealisasikan mimpi-mimpi mereka, dan mereka mengingat nama saya sebagai salah satu orang yang turut andil.
Betapa saya tidak bisa membayangkan wajah-wajah ingin tahu mereka ketika saya ajar, wajah-wajah berbinar karena semua rasa ingin tahunya terpenuhi. Saya rasa betapa berharganya hidup saya, karena saya mampu memberi manfaat kepada mereka. Cukuplah semua yang saya dapat selama ini, kelebihan dalam segala hal dibanding mereka, memberi manfaat ke saya. Sekarang saatnya saya mentransfer semua yang saya miliki kepada mereka yang ada di sana. Yap,,dengan bermanfaat bagi orang lain, pastilah hidup kita akan jauh jauh lebih bermanfaat.
Menjadi pengajar muda akan menjadi pengalaman berharga, setahun merasakan kehidupan yang belum pernah saya rasakan, berinteraksi orang-orang di daerah yang penuh keterbatasan dan keterbelakangan. Selama 23 tahun saya hidup di daerah yang semua kebutuhan mudah didapatkan. Oleh karenanya saya sangat ingin merasakan kehidupan orang-orang di daerah sana yang hidup dalam keterbatasan dan keterbelakangan. Tidak mudah memang beradaptasi nantinya dengan mereka, namun bagi saya itu adalah sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan. Dan berbekal pengalaman hidup saya selama 23 tahun, saya yakin saya bisa mengatasi semua tantangan yang ada.
Dan impian itu sudah semakin dekaat,,kurang lebih 2 bulan lagi,saya akan benar-benar merasaka bagaiamn rasanya menjadi pengajar muda,,Bismillah semoga Alloh memudahkan setiap langkahku ^^
Rabu, 06 April 2011
Kamis, 17 Februari 2011
Muridku, Tantanganku
Jumat,11 Februari 2011, 01.00 WIB-1,5 Jam Setelah Bimbel
Sudah 1 bulan lebih 5 hari saya menjadi bagian dari MA Amanatul Ummah. Menjadi Jajaran guru yang akan menghantarkan anak-anak kelas 3 Lulus Unas (InsyaAlloh). Amanah yang diberikan kepada saya adalah menjadi guru bimbel kelas 3 IPS yang mengampu mata pelajaran matematika dan Ekonomi Akuntansi. Amanah yang saya rasa cukup berat, mengingat 2 pelajaran tersebut sering kali menjadi “momok” bagi anak-anak IPS. Tapi, saya yakin dengan bantuanNya,,saya bisa menjalankan amanah ini.
Hari ini tepat H-66 UNAS. Semakin dekatnya hari, harusnya penguasaan materi anak-anak semakin banyak. Tapi ternyata, sampai hari ini, tidak lebih dari 10 anak dari total 31 anak, masih belum bisa menguasai materi baik matematika maupun ekonomi akuntansi . Terutama matematika, mayoritas masih sangaat sangat lemah kemampuan matematika, bahkan untuk bab aljabar yang paling sederhana saja, banyak yang belum bisa. Saya selalu bertanya-tanya,,lantas selama hampir 3 tahun mereka sekolah di SMA, apa yang sudah mereka dapatkan? Kok bisa merka bisa naik kelas, hingga sampai di penghujung kelas 3 SMA dengan kemampuan mereka yang sekarang ? (saya tidak bermasuk untuk merendahkan mereka)
Satu statemen dari Yohanes Surya yang selalu saya ingat adalah : di dunia ini tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah mereka yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari guru yang baik. Dari statemen tersebut, saya menarik sebuah kesimpulan, jangan-jangan guru yang mengajar mereka selama ini , bukan guru yang baik (dalam artian metode pengajarannya). Samapi akhirnya saya mulainya observasi kecil-kecilan untuk mendukung pikiran saya. Setalah beberapa kali melakukan satu obsevasi kecil, hasil yang saya dapatkan adalah, guru-guru saya rasa sudah mengunakan metode pengajaran yang tepat, yang akan membuat murid mengeri apa yang disampaikan. Lantas apa donk yang salah?
Observasipun saya tetap laksanakan.,dan akhinya saya menemukan alasan ketidakpahaman materi mereka , yaitu, tidak adanya semangat ato motivasi dari murid untuk bisa menguasai materi. Hal itu terlihat dari apa? Dari tingkat kehadiran mereka di kelas. Sebagus apapun guru menerangkan dengan metode yang bagus, tapi ketika semangat mereka untuk bisa tidak ada sama sekali, hal itu akan sia-sia saja. Bayangkan saja, dari 31 siswa, 15 pa dan 16 pi. Kehadiran pa setiap harinya hanya 5-6 orang, yang lain entah kenapa jarang masuk sekolah. Yang pi lebih rajin memang, hampir semua masuk, tapi yang memiliki semangat ingin bisa tinggi tidak lebih dari 8 orang. (pertanyaannya : kenapa hal ini terus dibiarkan oleh guru-guru yang lain? Entah kenapa? Jangan2 selama ini sudah ada upaya untuk mengubah mereka, tapi karena tidak adanya kesadaran dari diri masing-masing,, akhirnya y sudahlah…) dan saya rasa guru-guru yg lain sudah mulai lelah dan apatis untuk mengubah mereka.
66 hari lagi mereka akan menghadapi UNAS, yang akan menentukan keberlanjutan studi mereka. Dengan kemampuan yang ada sekarng,saya ragu nantinya kelas 3 IPS ini akan lulus 100%. Harus ada effort yang sangaat sangaat besar untuk mengajak mereka bersama-sama berjuang. Saya heran, kenapa tidak ada sedikitpun rasa takut di sebagian anak-anak bahwa nantinya mereka bisa saja tidak lulus UNAS? Kenapa mereka tidak merasa butuh degan sekolah (dengan bimbel juga tentunya), padahal mereka adalah anak-anak yang kemampuan akademiknya masih rendah? (Bukannya harusnya ketika tidak paham, ada semangat saya harus paham)
Entahlah,,cara apa yang tepat untuk mengubah mereka semua,,tidak hanya paham dari segi materi saja, namun juga menanamkan rasa tanggun jawab terhadap masa depan mereka. Diberi motivasi, wejangan-wejangan sudah terlalu seriiing, dan hasilnya hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.Lantas cara seperti apa yang akan manjur untuk mengubah mereka? Itulah yang menjadi PR besar, sekaligus tantangn yang harus segera saya selesaikan, sebelum semuanya terlambat, mumpung masih tersisa 66 hari. Mengingaat saya masiih sangaat sangaat pemula di dunia ini,,tugas ini bukanlah tugas yang ringan(Semoga Alloh memudahkan,,amiiin)
Sudah 1 bulan lebih 5 hari saya menjadi bagian dari MA Amanatul Ummah. Menjadi Jajaran guru yang akan menghantarkan anak-anak kelas 3 Lulus Unas (InsyaAlloh). Amanah yang diberikan kepada saya adalah menjadi guru bimbel kelas 3 IPS yang mengampu mata pelajaran matematika dan Ekonomi Akuntansi. Amanah yang saya rasa cukup berat, mengingat 2 pelajaran tersebut sering kali menjadi “momok” bagi anak-anak IPS. Tapi, saya yakin dengan bantuanNya,,saya bisa menjalankan amanah ini.
Hari ini tepat H-66 UNAS. Semakin dekatnya hari, harusnya penguasaan materi anak-anak semakin banyak. Tapi ternyata, sampai hari ini, tidak lebih dari 10 anak dari total 31 anak, masih belum bisa menguasai materi baik matematika maupun ekonomi akuntansi . Terutama matematika, mayoritas masih sangaat sangat lemah kemampuan matematika, bahkan untuk bab aljabar yang paling sederhana saja, banyak yang belum bisa. Saya selalu bertanya-tanya,,lantas selama hampir 3 tahun mereka sekolah di SMA, apa yang sudah mereka dapatkan? Kok bisa merka bisa naik kelas, hingga sampai di penghujung kelas 3 SMA dengan kemampuan mereka yang sekarang ? (saya tidak bermasuk untuk merendahkan mereka)
Satu statemen dari Yohanes Surya yang selalu saya ingat adalah : di dunia ini tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah mereka yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari guru yang baik. Dari statemen tersebut, saya menarik sebuah kesimpulan, jangan-jangan guru yang mengajar mereka selama ini , bukan guru yang baik (dalam artian metode pengajarannya). Samapi akhirnya saya mulainya observasi kecil-kecilan untuk mendukung pikiran saya. Setalah beberapa kali melakukan satu obsevasi kecil, hasil yang saya dapatkan adalah, guru-guru saya rasa sudah mengunakan metode pengajaran yang tepat, yang akan membuat murid mengeri apa yang disampaikan. Lantas apa donk yang salah?
Observasipun saya tetap laksanakan.,dan akhinya saya menemukan alasan ketidakpahaman materi mereka , yaitu, tidak adanya semangat ato motivasi dari murid untuk bisa menguasai materi. Hal itu terlihat dari apa? Dari tingkat kehadiran mereka di kelas. Sebagus apapun guru menerangkan dengan metode yang bagus, tapi ketika semangat mereka untuk bisa tidak ada sama sekali, hal itu akan sia-sia saja. Bayangkan saja, dari 31 siswa, 15 pa dan 16 pi. Kehadiran pa setiap harinya hanya 5-6 orang, yang lain entah kenapa jarang masuk sekolah. Yang pi lebih rajin memang, hampir semua masuk, tapi yang memiliki semangat ingin bisa tinggi tidak lebih dari 8 orang. (pertanyaannya : kenapa hal ini terus dibiarkan oleh guru-guru yang lain? Entah kenapa? Jangan2 selama ini sudah ada upaya untuk mengubah mereka, tapi karena tidak adanya kesadaran dari diri masing-masing,, akhirnya y sudahlah…) dan saya rasa guru-guru yg lain sudah mulai lelah dan apatis untuk mengubah mereka.
66 hari lagi mereka akan menghadapi UNAS, yang akan menentukan keberlanjutan studi mereka. Dengan kemampuan yang ada sekarng,saya ragu nantinya kelas 3 IPS ini akan lulus 100%. Harus ada effort yang sangaat sangaat besar untuk mengajak mereka bersama-sama berjuang. Saya heran, kenapa tidak ada sedikitpun rasa takut di sebagian anak-anak bahwa nantinya mereka bisa saja tidak lulus UNAS? Kenapa mereka tidak merasa butuh degan sekolah (dengan bimbel juga tentunya), padahal mereka adalah anak-anak yang kemampuan akademiknya masih rendah? (Bukannya harusnya ketika tidak paham, ada semangat saya harus paham)
Entahlah,,cara apa yang tepat untuk mengubah mereka semua,,tidak hanya paham dari segi materi saja, namun juga menanamkan rasa tanggun jawab terhadap masa depan mereka. Diberi motivasi, wejangan-wejangan sudah terlalu seriiing, dan hasilnya hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.Lantas cara seperti apa yang akan manjur untuk mengubah mereka? Itulah yang menjadi PR besar, sekaligus tantangn yang harus segera saya selesaikan, sebelum semuanya terlambat, mumpung masih tersisa 66 hari. Mengingaat saya masiih sangaat sangaat pemula di dunia ini,,tugas ini bukanlah tugas yang ringan(Semoga Alloh memudahkan,,amiiin)
Teaching is Addictive
Sabtu,12 Februari 2011; 00: 17 WIB, 47 menit setelah bimbel
Malam ini adalah malam dimana aku sangaat, sangaat semangat sekali mengajar. Paling semangat, paling menyenangkan dan paling bekesan, selama aku mengajar anak-anak kelas 3 IPS putri sebulan ini. Tau kenapa? Karenaa, berbeda dengan bimbel-bimbel sebelumnya, muridku yang hadir hanya, 5, 6 ato 7,,malam ini semua personil 3 IPS putri yang berjumlah 15 datang semuaaaa,,hehehe,,
Mereka datang tidak hanya untuk mengugurkan kewajiban datang bimbel, namun untuk bisa mengerti dan paham dengan apa yang akan dibahas. Semuanya terpancar dari mata, ucapan dan gerak-gerik mereka selama di kelas. Tampaknya semangat belajar dan keinginan untuk bisa menguasai materi UNAS mereka yang selama ini masih terpendam, sudah bangkit. Melihat semangat mereka, semangat mengajarku pun ikut bergjolak, semangat untuk membuat mereka mengerti dengan apa yang aku ajarkan begitu besar. Ketika mereka berkata,,oooohh,,gitu to…ya..yaa sekarang aku ngerti,,,oalah mung gitu,,,yang terlontar dari mereka, membuatku sanggat sanggaat senang dan bangaa,,rasanya kalo saja tidak ada anak-anak,, pasti aku akan menitikkan air mata. Saya sangaaaat sepakat dengan perkataan Anis Baswedan “ teaching is adivtive,,ketika mereka paham, dan mengerti degan apa yang diajarkan, mata mereka yang menunjukan kepahaman, membuat rasa ingin terus mengajar,lagi,,lagi,, dan lagi membuat mereka mengerti. Surely,, teaching is addictive ^^
H-65 UNAS : awal kebangkitan semangat murid-muridku, semoga semangat itu tetap istiqomah hingga hari itu tiba.
Malam ini adalah malam dimana aku sangaat, sangaat semangat sekali mengajar. Paling semangat, paling menyenangkan dan paling bekesan, selama aku mengajar anak-anak kelas 3 IPS putri sebulan ini. Tau kenapa? Karenaa, berbeda dengan bimbel-bimbel sebelumnya, muridku yang hadir hanya, 5, 6 ato 7,,malam ini semua personil 3 IPS putri yang berjumlah 15 datang semuaaaa,,hehehe,,
Mereka datang tidak hanya untuk mengugurkan kewajiban datang bimbel, namun untuk bisa mengerti dan paham dengan apa yang akan dibahas. Semuanya terpancar dari mata, ucapan dan gerak-gerik mereka selama di kelas. Tampaknya semangat belajar dan keinginan untuk bisa menguasai materi UNAS mereka yang selama ini masih terpendam, sudah bangkit. Melihat semangat mereka, semangat mengajarku pun ikut bergjolak, semangat untuk membuat mereka mengerti dengan apa yang aku ajarkan begitu besar. Ketika mereka berkata,,oooohh,,gitu to…ya..yaa sekarang aku ngerti,,,oalah mung gitu,,,yang terlontar dari mereka, membuatku sanggat sanggaat senang dan bangaa,,rasanya kalo saja tidak ada anak-anak,, pasti aku akan menitikkan air mata. Saya sangaaaat sepakat dengan perkataan Anis Baswedan “ teaching is adivtive,,ketika mereka paham, dan mengerti degan apa yang diajarkan, mata mereka yang menunjukan kepahaman, membuat rasa ingin terus mengajar,lagi,,lagi,, dan lagi membuat mereka mengerti. Surely,, teaching is addictive ^^
H-65 UNAS : awal kebangkitan semangat murid-muridku, semoga semangat itu tetap istiqomah hingga hari itu tiba.
Langganan:
Postingan (Atom)